Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 September 2015

Tujuh Board Game Bertemakan Indonesia

"Tujuh Board Game Bertemakan Indonesia"

Dari ratusan ribu judul board game yang ada, ternyata ada segelintir yang bertemakan Indonesia. Apa saja

KOMPAS.com - Saat ini, setidaknya sudah ada puluhan hingga ratusan ribu judul permainan papan (board game) yang beredar di seluruh dunia. Dari judul-judul tersebut, ternyata sudah ada segelintir kecil yang bertemakan Indonesia.

Board game sendiri tumbuh dan berkembang pesat di belahan benua Eropa, terutama di Jerman. Setiap tahunnya ada begitu banyak judul baru yang dicetak dan dirilis di belahan negeri itu.

Siapa sangka, produsen dan pembuat board game asal Eropa itu ada yang melirik Indonesia sebagai sumber temanya. Akan tetapi, kebanyakan dari game tersebut tidak banyak menceritakan tentang Indonesia, selain hanya untuk referensi visual saja.

Dari tahun 1990 hingga sekarang, tercatat ada setidaknya ada 7 board game asal luar negeri yang bertemakan Indonesia. Beberapa di antaranya sudah cukup sulit untuk dicari.

Berikut daftar judul-judulnya, seperti KompasTekno rangkum dari BoardGame.id, Minggu (23/8/2015).

1. Papua (1992)

Board game mengenai pulau Papua ini dibuat oleh Thilo Hutzler asal Jerman. Board game tersebut terkesan sedikit komedi, yakni bagaimana menyelamatkan diri menuju perahu sebelum dijadikan sup oleh suku pedalaman di Papua.
 
2. Java (2000)
Board game ini dibuat oleh Michael Kiesling dan Wolfgang Kramer. Keduanya berasal Jerman.

Permainan tersebut akan mengajak pemain untuk berlomba-lomba membangun desa. Pemain juga akan diajak untuk membuat sistem irigasi, lalu membajak sawah.

Pemain dengan peradaban termaju akan dinyatakan sebagai pemenang.

3. Bali (2001)
Game ini pun dibuat oleh orang Jerman. Kali ini, si pengarang bernama Uwe Rosenberg.

Game tersebut menceritakan dalang wayang yang berpetualangan dari satu pulau ke pulau lain. Dalang akan menantang dalang lain di suatu pulau.

Jika ia sukses menyerbarkan budaya wayang, pemain ini akan memenangkan permainan.

Fakta uniknya, meski menggunakan nama Bali, pemain sama sekali tidak bakal menemukan Bali sebagai pulau yang akan dikunjungi.
 
4. Indonesia (2005)
Kali ini, board game tersebut bukanlah buatan Jerman, melainkan orang Belanda. Joris Wiersinga, nama si pengarang. Kebetulan kami pernah berkesempatan jumpa dengan Joris Wiersinga, pada 2014 lalu, simak dalam tulisan ini.

Board game ini bisa dikatakan sebagai game legendaris. Pasalnya, ia dinilai sebagai board game paling rumit di dunia. "Indonesia" pun sudah cukup sulit ditemukan di pasar.

Pemain nantinya akan berperan sebagai pedagang yang ditunjuk Sultan dari Solo (mungkin, maksudnya adalah Mataram. Ia akan memperbutkan komoditi pangan dan juga kapal dengan menguasai pelabuhan.

Pemain yang memiliki kekayaan paling banyak yang akan memenangkan permainan.

5. Borneo (2007)
Nama lain dari pulau Kalimantan ini dibuat oleh seorang Italia bernama Paolo Mori.

Borneo bercerita pemain yang akan bertindak sebagai pedagang rempah-rempah pada abad ke-17. Setiap pemain bertugas untuk lebih sukses dari pemain lain untuk menunjukkan, ialah juragan rempah-rempah paling hebat.

6. Batavia (2008)

Mengambil asal nama Jakarta, Batavia dibuat oleh Dan Glimne & Grzegorz Rejchtman yang berasal dari Swedia.

Di Batavia, pemain adalah bagian dari kongsi dagang Hindia Timur, Inggris, Belanda, Swedia, Denmark, dan Prancis. Pemain harus berlomba untuk mengunjungi setiap Pos Perdagangan milik lawan.


Meski mengambil nama Batavia, sayangnya Indonesia tidak menjadi kongsi dagang yang ada dalam permainan. Tampaknya, si pembuat game hanya menjadikan Batavia sebagai sumber visual permainan saja.

7. Ekspedisi Sumatra (2010)
Ekspedisi Sumatra adalah buah karya Jens Jahnke & Britta Stöckmann dari Jerman.
 
Board game ini menceritakan pemain sebagai anggota tim dari balai observasi hewan lindung asal Eropa. Pemain akan menelusuri petak-petak dalam papan yang disimbolkan sebagai hutan-hutan di Sumatra.

Tugas pemain adalah menemukan dan membawa keluar hewan-hewan yang terancam punah sebelum diincar oleh pemburu liar.

Seperti yang telah dilihat, meski mengambil tema Indonesia, semua board game tersebut dibuat oleh orang asing. Jika orang asing saja mau membuat permainan dengan tema Indonesia, mengapa kita yang orang Indonesia tidak mau membuat tema permainan dari Tanah Air?

Untungnya, saat ini ada cukup banyak boardgame yang dibuat oleh kreator asli Indonesia, dengan tema yang beragam. Termasuk yang membawa tema Indonesia. Sebut saja game seperti Mat Goceng atau Mahardika terbitan Manikmaya. Kompetisi Boardgame Challenge yang digelar Kompas pun menuai cukup banyak karya yang menjanjikan.

Semoga untuk ke depannya dunia boardgame di Indonesia akan semakin semarak
.

Jangan Lupa Share, Like dan Komen.....

Sabtu, 29 Agustus 2015

Alasan Dolar Makin Kuat

"Alasan Dolar Makin Kuat"

Akhir-akhir ini Setiap buka TV saat lagi nonton berita selalu tentang  isu kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah emang sedang jadi perbincangan hangat. Kepanikan seperti melanda para kelas menengah karena harga barang-barang impor jadi lebih mahal dari biasanya. Tapi apakah sobat sadar bahwa sobat seharusnya gak usah panik karena sebetulnya ekonomi Indonesia baik-baik aja. Kenapa bisa begitu? Padahal 1 dolar udah Rp 14 ribu!? Tenang aja sobat, akan saya jelaskan sekarang.

Ekonomi Amerika Lagi Kuat dan Meningkat

Setelah sempat masuk ke zaman "kegelapan", Amerika Serikat sedang bangkit dan ngebangun lagi ekonominya selama 4-5 tahun terakhir. Salah satu faktor adalah tingkat pengangguran yang semakin berkurang, dari masa krisis yang sebesar 10 persen pada 2008 ampe sekarang jadi 5 persen. Gini aja, ketika misal ada seribu orang yang abis dapat pekerjaan baru, maka mereka punya uang untuk dibelanjakan. Mereka beli hp dan mobil baru. Ekonomi Amerika makin bagus dong. Dampaknya adalah ke peningkatan nilai mata uangnya dan Amerika bisa jadi lebih cepet buat naikin suku bunganya.

Bukan Cuma Indonesia yang terkena dampak

Ini adalah fenomena ekonomi global. Dari Desember-Mei, rupiah mengalami depresiasi 5,7 persen, makanya itu yang bikin nilai tukar ampe Rp 13 ribu. Tapi gak cuma Indonesia. Brazil aja sepanjang 2015 melemah 15 persen. Bayangin betapa anjloknya nilai tukar real Brazil. Kalo di Asia Tenggara, Indonesia udah termasuk oke, sedangkan Malaysia dan Singapura malah termasuk parah. Bahkan nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar AS anjloknya gila-gilaan. Setidaknya ada 20 mata uang yang melemah akibat penguatan dolar Amerika. Rusia, Turki, dan Afrika Selatan juga ternyata masih lebih parah sobat.

Devaluasi Yuan

Karena ekonomi Amerika yang semakin menguat, jadinya permintaan ekspor Cina melemah, angkanya turun terus. Selama bulan Juli aja turun 8,3 persen. Ekspor Cina ke AS turun 1,3 persen. Oleh karena itu Bank Sentral Cina melemahkan mata uang yuan terhadap dolar AS sampai 2 persen supaya barang produksi Cina jadi lebih murah dan diharapkan bisa memperbaiki ekspor mereka. Langkah Cina ini ngebikin negara-negara kayak Singapura, Selandia Baru, Australia, dan Korea Selatan nurunin mata uangnya terhadap dolar AS supaya barang produksi mereka bisa bersaing dengan Cina. Ekonomi Indonesia pun mandek karena Cina yang merupakan rekan dagang Indonesia nurunin mata uangnya, otomatis Indonesia harus ikut menyesuaikan. Belom lagi permasalahan ekspor Indonesia yang lesu dalam tiga tahun terakhir, berbanding terbalik dengan impornya. Intinya, makin dikit aja yang beli produk-produk Indonesia. Kalo udah begitu makin sulit aja deh pertumbuhan ekonomi kita sobat.

Tapi Kita Gak Usah Panik?

Masih ada faktor lainnya yang menyebabkan penguatan mata uang dolar AS seperti suku bunga Amerika yang rencananya bakal dinaikin oleh bank sentral AS, The Fed, tapi nyatanya gak juga naik ampe hari ini karena hal tersebut gak semudah yang mereka rencanakan. Juga sejumlah investor Amerika yang kembali ke negaranya setelah dolar menguat dan ninggalin rupiah terkapar gitu aja, maka gak heran kalo nilai tukar rupiah menurun. Tapi ternyata kepanikan terjadi di kalangan kelas menengah yang pengeluarannya banyak bergantung pada produk-produk impor. Sementara bagi kelas C dan D alias menengah ke bawah gak terlalu. 

Jangan Lupa Share, Like dan Komen....